Kategori
AKADEMIK HIKMAH KEMAHASISWAAN KERJASAMA PERSYARIKATAN PROFIL

ESENSI QURBAN DAN SHALAT

إِنَّشَانِئَكَهُوَالْأَبْتَرُ

Inna Syâniaka Hua L-Abtar.“Sungguh  pembencimu (musuhmu) dialah yang pasti terputus (hancur generasi)”QS 108:3. Kepastianakan hancurnya generasi pembenci Nabi alias musuh Islam yang berhubungan dengan kepastian kaum muslimin menegakan sholat (hablum minallâh) dan berqurban (hablum minannaas) secara ikhlas, adalah penjelasan sebuah sunatullâh (hukum Allah) yang merupakan hukum sebab akibat di dalam proses kehidupan masyarakat yang biasa juga disebut sebagai hukum sejarah. Hukum ini menunjukkan bahwa penegakkan sholat sebagai representasi hablumminallâh dan pelaksanaan qurban sebagai representasi hablum minannâs (ibadah sosial) itu menentukan tingkat kemenangan perjuangan kaummuslimin di dalam membangun khoiru ummah/umat terbaik/masyarakat Islam yang sebenar benarnya/masyarakat utama. Dua ibadah ini adalah bagai dua sisi dari satu koin mata uang, keduanya harus menyatu. Apabila salah satunya tiada maka koin itu menjadi tidak bernilai lagi sebagai mata uang.

Kekuatan umat Islam terletak pada tegaknya dua ibadah ini dalam satu kesatuan. Hal ini dikonfirmasi oleh QS 3:112 yang menyatakan “dimana saja mereka berada pasti ditimpa kehinaan (dzillah/kekalahan) kecuali dengan hablum minallâh dan hablum minannâs”. Secara syar’i, sholat lima waktu itu dilaksanakan berjamaah pada waktunya di mesjid. Jika shalat ini ditegakkan, maka akan terlihat setiap waktu shalat yang lima itu mesjid penuh dihadiri kaum muslimin yang melaksanakan shalat. Dengan demikian akan nampak betul mesjid benjadi sentral aktivitas, pusat denyut peradaban masyarakat muslim dimanapun berada. Berkumpulnya kaum muslimin lima kali sehari secara bertahap akan membangun kekuatan rasa persaudaraan, kekuatan ideologi, yang kemudian membangkitkan dorongan kuat untuk melaksanakan segala nilai ajaran Islam secara  kâfah (total), termasuk ibadah sosial seperti zakat, infaq, shadaqah, dan waqaf.

Jikapotensi ibadah sosial umat Islam Indonesiasaja yang mendekati angka seribu triliun dalam setahun itu terlaksana, maka sungguh ini menjadi kekuatan nyata ekonomi umat Islam. Ini akan menjadi ikatan sapu lidi raksasa yang mampu menyapu segala kotoran yang ada di dalam tubuhmasyarakat muslim, yang berupa kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dan kehinaan-kehinaan lainnya. Dengan demikian, imunitas umat semakin meningkat, yang pada tingkat kekuatan tertentu akan menyeret segala sel kanker sosial yang berupa kekafiran, kemunafikan, kesyirikan, dan manusia-manusia pelakunya, paling tidak tak berkutik dan lebih jauhnya betul-betul terlempar keluar dari masyarakat, sebagaimana yang terjadi di Madinah hingga futuh Makah yang dipimpin oleh Rasulullah. Betulkah umat Islam (Indonesia) telah secara total mengikatkan dua habl/tali inidi dalam kehidupan nyata?

Kealpaan lebil dari 90% kaum muslimin shalat berjamaah di mesjid  di setiap waktu sholat adalah sudah cukup menjadi indikator kasat mata yang menunjukkan jawaban “tidak”. Inilah gambaran nyata diri kita. Begitu luas dan panjangnya wilayah peluang perjuangan yang mesti ditempuh! Betulkah kita ingin meraih surga? Mari kita menjadi bagian dari barisan yang menangkap dan mengisi peluang ini dengan sebaik-baiknya. Inilah “substansi pesan” di dalam hiruk pikuk gemuruh takbir, tahlil, tahmid dan seluruh aktivitas kaum muslimin di hari  raya qurban di seantero penjuru dunia. Pesan adalah isi dan lainnya adalah wadah. Yang menjadi konsumsi yang akan menyehatkan tubuh diri umat adalah isi. Wadah tinggallah wadah, dan si sakit tetaplah sakit, jika isi tidak dikonsumsi, tidak dilaksanakan. Hati-hati! Ingat, jangan terpana oleh wadah tapi lupa akan isi! Wallâhu a’lam bishshowab. []

 

Kategori
HIKMAH PROFIL

BISMILLAH

Oleh Dr. Ahmad Qonit AD, MA.

Rektor Umtas

             Hampir dipastikan kita tidak akan bisa menghitung seberapa banyak seorang muslim mengucapkan lafal bismillâh dalam sehari semalam, karena pengucapan bismillâh melekat dengan setiap perbuatan yang dilakukannya. Setiap melakukan sesuatu, refleks begitu saja, mesti diawali dengan melafalkan bismillâh, dan hampir dipastikan kita tidak pernah mencatat atau menghitung setiap tindakan yang dilakukan, tetapi mengalir begitu saja sepanjang  napas bertiup, sejauh jantung mendekup berdenyut mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Kalau ditanya seberapa banyak hari ini membaca bismillâh pasti tidak dapat menjawabnya dengan pasti.

Ini ajaran dasar Islam yang terkandung di dalam ayat pertama surat Al-Fâtihah:  بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. Ayat ini mengandung pesan “mulailah setiap perbuatan/tindakan dengan bismillâh atau dengan melafalkan bismillâhirrahmânirrahîm”. Melafalkan bismillâh ini mengandung ajaran tentang niat, yaitu bahwa setiap tindakan yang dilakukan itu harus diniatkan hanya karena Allah saja, yakni ikhlas lillâh, karena Allah semata. Di dalam suatu hadits dikatakan bahwa setiap perbuatan yang tidak dimulai dengan bismillâh itu ditolak, artinya tidak diterima oleh Allah, artinya tidak akan mendapat ganjaran pahala.

Lafal  الرَّحْمَنِ yang mengikuti lafal Allah mengisyaratkan tentang alasan mengapa manusia harus niat ikhlas karena Allah di dalam setiap amaliahnya. Tindakan Allah SWT dalam bentuk menciptakan segala ciptaan-Nya (berupa tujuh langit dan segala isinya), menciptakan manusia, mengajarkan manusia Ilmu dan A-Qur’ân, itu semua, adalah aktualisasi dari nama atau sifat ar-Rahmân ini (Q.S. 67:3; 55:1-4). Memang, manusia dapat melakukan apa saja karena ia memiliki kemampuan untuk melakukannya, dan kemampuan itu ada karena ia hidup, dan hidup itu adalah anugrah dari Mahakasih Allah. Mengucapkan bismillah di setiap awal perbuatan itu mengandung makna: (1) pengakuan bahwa perbuatan itu dilakukan karena dirinya diberi kemampuan melalui kehidupan yang dianugrahkan Allah kepadanya, dan (2) bahwa perbuatan itu dilakukan sebagai wujud bentuk syukur atas anugrah kehidupan tersebut. Sedangkan lafal  الرَّحِيمِ mengandung informasi tentang janji Allah bagi setiap orang melakukan tindakan syukur atas anugrah-Nya itu. Yaitu bahwa mereka itu akan diberi rahmat yang abadi dari dunia hingga akhirat, di dunia berupa kehidupan yang baik (hayâtan thayyibatan) dan di akhirat berupa surga jannatunna’îm.

Sisi lain dari pelafalan bismillah di setiap awal perbuatan adalah terkait fungsi kekhilafahan manusia di muka bumi ini sebagaimana disebutkan  Q.S.2:30 “bahwa manusia dijadikan Tuhan sebagai khalîfah (pemimpin)”. Secaca harfiyah lafal khalîfah itu sendiri berarti “pengganti” atau wakil yang menggantikan pihak yang diwakili. Dalam hal ini pihak yang diwakili manusia itu adalah Allah SWT. Allah telah menyiapkan konsep sistem untuk membangun kehidupan yang sempurna, kehidupan yang terbaik, yaitu dalam bentuk ajaran yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya berupa agama yang dirangkum di dalam kitab suci dimana Al-Qur’ân sebagai kitab-Nya yang terakhir. Allah SWT tidak langsung menjalankan konsep sistem tersebut melainkan mewakilkannya kepada manusia untuk menjalankannya. Oleh karena sebagai khalifah itulah maka setiap melakukan sesuatu manusia secara formal harus mengatakan bahwa ia melakukan suatu tindakan itu adalah atas nama Allâh (Bismillâh) artinya mewakili Allah. Karena mewakili Allah itulah maka setiap tindakan manusia harus menggunakan konsep sistem ajaran Allah yaitu Al-Qur’ân. Jika tidak, maka dia sudah tidak mewakili Allah lagi, tidak lagi berfungsi sebagai khalifah Allah.  Ucapan bismillâh itu ikhlah lillâh mengandung konsekwensi bahwa perbuatan tersebut harus dilakukan denga cara atau kaifiyah sesuai dengan tuntunan ajaran Al-Qur’ân sebagaimana dicontokan oleh Rarul Allah. Seorang yang melafalkan bismillâh seyogyanya sesantiasa berkomitmen untuk seperti ini. Kalau tidak berarti bismillahnya belum sempurna karena baru sebatas di lisan, belum  sampai di sikap dan perbuatan! Wallâhu a’lam bi ash-showâb. []

 

Kategori
HIKMAH PROFIL

SHALAT GERHANA BULAN

Shalat Gerhana Bulan

Oleh Dr. Ahmad Qonit AD, MA.

Di zaman sekarang, kehebatan ilmu pengetahuan membuat para ahli dapat memprediksi kapan terjadinya gerhana bulan dan gejala alam semesta lainnya. Para ahli bisa memprediksi kalender sepanjang masa, sehingga memudahkan kita untuk menjadwalkan kegiatan-kegiatan kita.

Walau begitu, perhitungan manusia pasti ada kesalahannya. Alhamdulillah, Allah takdirkan kita dapat melihat gerhana bulan yang terjadi saat ini. Yaitu yang jatuh pada 15 Dzulqa’dah 1440 H/17 Juli 2019 M.

Yang perlu kita garis bawahi adalah bahwa peristiwa gerhana dan peristiwa alam semesta memberikan kejutan-kejutan pada kita. Bagi masyarakat awam yang tidak mengerti, kejadian alam seringkali dikaitkan dengan kepercayaan-kepercayaan. Bagi yang mengerti, bagi yang membaca dan menelaah Al-Quran, maka yang dijelaskan oleh Al-Quran bahwa kejadian di alam semesta adalah ayat-ayat Allah. Wassyamsi walqomaru bi husban. Matahari dan bulan adalah ayat-ayat Allah. Maka dari itu, jangan menyembah matahari dan bulan. Sembahlah Allah yang menciptakan keduanya. Kejadian di alam semesta, yang dapat diprediksi kejadiannya oleh ilmu pengetahuan manusia, sesungguhnya adalah representasi ayat-ayat Allah.

Kejutan-kejutan ini sesungguhnya tidak ada di dalam hitungan kita sebagai kaum awam karena alam semesta berjalan begitu tertib. Terbit tenggelamnya matahari, pergantian siang dan malam, bulan sabit hingga bulan penuh di langit malam, semua yang terjadi tampak biasa-biasa saja. Kita jarang sekali merenunginya. Tersibukkan oleh rutinitas keseharian duniawi kita. Hingga kita lupa, siapa penciptanya. Apakah kita bisa menciptakan yang seperti itu? Padahal sesungguhnya tubuh kita yang terdiri atas jutaan sel semuanya beroperasi sesuai dengan sunnatullah. Ada hukum-hukum Allah yang lekat di sana. Jika digunakan sebaik-baiknya, maka Allah akan berikan tambahan kekuatan. 

Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan peringatan kepada kita. Bahwa sesungguhnya Allah sangat kuasa untuk melakukan yang lebih-lebih dari itu. Melipat-lipat langitpun sesuatu yang mudah bagi Allah. Kejadian ini hendaknya mengingatkan kita akan hari kiamat. Bahwa kita adalah milik Allah dan kita akan kembali kepadanya. 

Setiap kejadian adalah bagian dari tanda-tanda cinta Allah. Peristiwa yang dahsyat mengingatkan kita bahwa kita ada dalam genggaman Allah. Kita ada pada sistem yang Allah ciptakan. Kita tidak boleh merusak sistem itu. Tak boleh menciptakan sesuatu yang mudharat untuk kita, orang lain, dan alam semesta. Jadikan momen ini untuk bermuhasabah, sebagai jalan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. [nu]

Kategori
HIKMAH

SYUKUR

SYUKUR

Oleh: Dr. Ahmad Qonit AD, MA., Rektor Umtas

Manusia paling hebat adalah mereka yang pandai bersyukur. Bayangkan! Sebagai perwujudan Maha Kasih Allah (Ar-Rahmân) kepada manusia, Dia menciptakan mati dan hidup serta tujuh langit berlapis (QS 67:2-3); Menciptakan  manusia sebagai puncak penciptaan, seluruh mahluk diciptakan dalam kerangka manusia; Dia mengajarinya Iptek dan Al-Qurân/Agama(QS 55:1-4). Seorang yang pandai bersyukur sadar betul bahwa dirinya sangat kaya penuh anugrah berkelimpahan tak kurang sesuatu apapun, dan diapun menyadari bahwa dirinya adalah kaki tangan Tuhan Yang Maha Kasih untuk menebarkan segala kasih-Nya kepada segenap alam semesta. Dia selalu menjalankan pesan Nabi “Khoirun nâs anfa’uhum linnâs/manusia terbaik adalah yang lebih banyak memberi manfaat bagi manusia lainnya”. Dia tidak mengeluh ketika menemui rintangan, kesulitan, atau apapun namanya, karena dia yakin Allah telah menganugrahinya potensi kemampuan untuk mengatasinya, namun sebaliknya terus bekerja keras mengasah potensinya dan tidak pernah merasa lelah terus menanganinya dengan begitu gigih dan penuh semangat.

Kehidupan yang baik adalah garis lurus yang mempertemukan  dua titik ekstrim, yakni sabar di satu titik dan syukur di titik yang lain, yang kemudian menyatu mengisi dua sisi dalam satu keping mata uang yang bilamana salah satu saja hilang maka uang alias kehidupan tersebut sudah tidak bernilai lagi sehingga sudah tidak  bernilai tukar/bernilai solutif apapun. Pertemuan dua ujung inilah yang menjadikan manusia senantiasa cerdas di dalam membaca ayat-ayat kehidupan yang menjadikannya selalu mampu menghadapi dan menangani segala persoalan “inna fî dzâlika la âyâtin likulli shobbârin syakûrin”/” إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ””sungguh hanya orang yang pandai bersabar dan bersyukur yang secara cerdas dapat  membaca ayat-ayat di dalam kehidupan ini sehingga  meraih ilmu, petunjuk, dan akal pikiran guna alternatif solusi segala persoalan ” (QS 14:5; 31:31; 34:19; 42:33).

Memberi solusi  terhadap persoalan adalah esensi tugas kekhalifahan manusia di muka bumi ini. Meningkatnya tindakan solutif yang dilakukan seseorang, kelompok, ataupun lembaga berbanding lurus dengan meningkatnya derajat dan martabat  orang, kelompok, atau lembaga tersebut di dalam konstelasi panggung kehidupan. Inilah yang ditunjukkan QS 14:7 “La-in syakartum la-azîdannakum wa la-in kafartum inna ‘adzâbî lasyadîd”(QS 14:7). Adalah ketetapan Allah SWT yang tidak akan pernah berubah bagi orang yang bersyukur, bahwa bagi mereka “anugrah ni’mat Nya itu senantiasa bertambah dan berlimpah”. Ini adalah tindakan solutif yang berkelanjutan.

Air selalu bergerak dari tempat yang lebih tinggi menuju ke tempat yang lebih landai atau rendah. Seorang rendah hati “tawadu” senantiasa  merasa ketiadaan diri “fanâ” di hadapan Allah SWT. Maka ia selalu menyadari bahwa kehidupan ini adalah rahmat, anughrah, limpahan dari Yang Maha Pengasih Yang Maha Tinggi Yang Maha  Agung Yang Maha Besar. Oleh karena itu ia senantiasa memuja, memuji, meninggikan dan mengagungkan Allah SWT, serta berbagi saling menolong pada sesama sebagai rasa syukur atas rahmat-Nya itu. Inilah perilaku, sifat, dan karakter yang menjadi habitat bagi tumbuh suburnya karakter syukur dan sekaligus shabar di dalam diri seorang hamba. Maka Al-Qur’ân menunjukkan “wa litukabbirullâha ‘alâ mâ hadâkum wa la’allakum tasykurûn”” وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ””…dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu senantiasa bersyukur” QS 2:185. Rendah hati bertawadu mengagungkan Allah dalam ekspresi totalitas kedirian adalah kunci menjadi orang yang pandai bersyukur. []