Prof. Dr. Uman Suherman, AS, M. Pd., Koordinator Kopertis Wilayah IV menjadi pembicara utama dalam acara Pembinaan dan Silaturahmi Dosen dan Karyawan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) pada Sabtu, 16 Syawal 1439 H / 30 Juni 2018 M di Graha UMTAS. Rektor UMTAS, Dr. Ahmad Qonit Ali Daud, MA., menyampaikan ucapan selamat datang kepada beliau yang baru pertama kali datang ke kampus UMTAS.

“Selamat datang di UMTAS. Kami laporkan, bahwa UMTAS alhamdulillah menginjak usia ke-4 pada tahun ini. Kami memiliki 3 fakultas dan 13 prodi, dengan dosen-dosen muda yang bersemangat, dan sebagian sedang melaksanakan tugas belajar S3 di UPI, UGM, ada yang di Malaysia, di Taiwan, dan sebagainya. Insya Allah UMTAS serius dan solid berjuang untuk menjadi kampus berkemajuan,” tuturnya.

Ketua Badan Pembina Harian UMTAS, H. Iip Syamsul Arief MN menambahkan, bahwa UMTAS merupakan salah satu dari 176 Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia yang pengelolaannya langsung berada di bawah Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. “Kami mengapresiasi kinerja kopertis. Dulu, yayasan diundang ke acara kopertis hanya saat-saat tertentu saja. Alhamdulillah sejak 2016 yayasan sering dilibatkan dalam pembuatan kebijakan dengan kopertis, sehingga kebijakan yayasan dan kopertis bisa sejalan,” paparnya.

Menanggapi Ketua BPH UMTAS, Prof. Uman Suherman, AS, M. Pd. menyampaikan bahwa dulu cara kerja kopertis adalah wasdabin (Pengawasan, Pengendalian, Pembinaan). Sekarang diubah menjadi bindawas (Pembinaan, Pengendalian, Pengawasan), karena bukan melihat apa yang menjadi permasalahan PTS sehingga perlu pengawasan, melainkan melihat potensi apa yang dimiliki PTS tersebut sehingga perlu dibina. “Ada 478 PTS di Jawa Barat, termasuk UMTAS, yang menjadi salah satu kampus kebanggan. Jika kami ambil satu hari satu kampus saja, tidak cukup dalam waktu satu tahun, padahal sebenarnya kami ingin datangi semuanya,” katanya.

Pesan beliau untuk UMTAS adalah UMTAS harus membangun kualitas SDM, baik kualitas penyelenggara, pengelola, maupun pembina. Selain itu, UMTAS harus meningkatkan akreditasi. “Jika dulu memilih Pilkada dengan melihat partainya, sekarang trend bergeser menjadi melihat siapa tokohnya. Jika dulu memilih PTS melihat siapa tokoh pendirinya, sekarang trend bergeser menjadi melihat akreditasinya,” terangnya sembari memberikan analogi.

Beliau juga menyampaikan, agar jangan mudah puas dengan perolehan akreditasi, baik prodi maupun institusi. “Akreditasi C itu baik. Ijazahnya legal, diakui negara, tetapi tidak dihargai. Akreditasi B itu baik sekali, memiliki ketercapaian daya saing nasional. Namun alangkah baiknya jika dapat menggapai akreditasi A, sehingga menjadi kampus rujukan nasional, dan tentu saja akan menjadi kebanggaan Kopertis,” tambahnya.

Salah satu cara untuk meningkatkan akreditasi adalah bekerja sama dengan PDM luar daerah, lalu mahasiswa tersebut diasramakan, dididik untuk menjadi kader, sehingga double untung: mendapatkan kader sekaligus menjadi universitas rujukan nasional karena mahasiswanya dari berbagai daerah. Begitu juga dengan dosen, sebaiknya dijadwalkan untuk menjadi dosen tamu di PTM luar daerah, sehingga mereka akan membawa bahasa akademik yang baik dan mengkayakan UMTAS dengan pengalaman akademik yang beragam.

“Memiliki dosen-dosen yang qualified dan mahasiswa yang berkompetensi tetapi akreditasi belum baik, ini gawat. Pengelola dan penyelenggara pendidikan harus memikirkan nasib mahasiswa, nasib dosen, nasib warga muhammadiyah, dan nasib warga Tasikmalaya dengan terus berjuang meraih akreditasi tertinggi. Untuk itu, seluruh sivitas akademika UMTAS harus silih asah, silih asih, silih asuh dalam membangun UMTAS,” paparnya.

Selain diamanahi dengan tri darma pendidikan, menurutnya, dosen harus meningkatkan jabatan fungsionalnya. “Semua dosen sudah berpendidikan S2 itu bagus. Tetapi ia hanya memiliki jabatan sebagai Asisten Ahli, yang belum dapat menjadi penanggungjawab mata kuliah di prodinya. Lektor yang bisa. Untuk berada pada posisi Lektor, dosen harus doktor terlebih dahulu. Ini harus dipikirkan oleh pengelola dan penyelenggara pendidikan. Harus ditargetkan, berapa orang doktor yang harus dimiliki tahun ini. Saya berharap, segera ada guru besar yang dilahirkan UMTAS secara original, bukan naturalisasi,” paparnya sambil berseloroh.

SDM yang berkualitas harus diimbangi dengan produktivitas, yang akan berjalan dengan baik jika ada SOP yang jelas. “Dosen jangan sering download, tetapi harus sering upload. Download jurnal untuk landasan penelitian boleh. Tetapi ingat, harus sering upload RPS per semester, bahan ajar, dan instrument lainnya, sehingga muncul di repository perguruan tinggi. Produktif menulis artikel dan buku, lalu wajibkan mahasiswa untuk mengutip tulisan kita. Ini yang saya maksud semua harus silih asah, silih asih, dan silih asuh. Dengan begitu, UMTAS akan menjadi perguruan tinggi yang bermutu,” pungkasnya. [nu]


Bagikan berita ini