Pada pelantikan Badan Pembina Harian (BPH), Wakil Rektor 1 dan 2, dan Dekan di lingkungan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (Umtas), Rektor Umtas, Dr. Ahmad Qonit AD, MA., mengenalkan sosok baru kepada khalayak hadirin. Dia adalah H. Rachmat Badrudin. Seorang pekebun dan pengusaha teh yang didaulat menjadi ketua Dewan Teh Indonesia dan penggagas IGG on Tea (International Govermental Group on Tea) pada 2014 kemarin. Kehadiran tokoh pengusaha di tengah-tengah akademisi Umtas diharapkan dapat membawa angin segar bagi Umtas di masa mendatang.

Berikut adalah naskah pidato H. Rachmat Badrudin pada saat memberikan orasi ilmiah pada pelantikan BPH, Wakil Rektor 1 dan 2, dan Dekan di Umtas pada Sabtu, (27/7).

 

Assalamu’alaikum warrohmatullahi wabarakatuh.

Ysh Bapak Rektor UMTAS

Bapak…

Bapak…

Perkenalkan saya Rachmat Badruddin, 

Bidang kegiatan yang saya geluti utamanya bergerak di bidang usaha perkebunan Teh dan di organisasi-organisasi bisnis, juga terlibat tapi tidak aktif di Sinergi Foundation sebagai anggota Dewan Pembina, juga di Yayasan Muhamadiyah Tegalega, Bandung. 

Ayah saya dan saudara-saudaranya dulu aktif di Muhammadiyah, dan itu pulalah yang menjadi salah satu alasan saya memutuskan untuk menerima permintaan untuk jadi anggota Badan Pembina Harian (BPH) UMTAS, Insya Alloh saya bisa berkontribusi dan menjadi amal kebaikan.

Karena melakukan berbagai kegiatan itu saya mempunyai keterbatasan terutama waktu. Keterbatasan ini saya telah sampaikan pada Bapak Rektor Umtas, seandainya saya berhalangan, akan mewakilkan pada anggota Direksi lain di perusahaan.

Izinkan saya memulai sambutan ini dengan kata bijak dari Nelson Mandela yg mengatakan, tidak ada sebuah negara bisa benar-benar maju kecuali kalau penduduknya  berpendidikan :

No country can really develop unless its citizens are educated.

Negara-negara yang tergolong ‘maju’ secara umum penduduknya lebih berpendidikan berbanding dengan negara-negara yang masih di kategori developing countries dimana pendidikan belum bisa dinikmati sebagian besar penduduknya.

Albert Einstein berkata, mempunyai pendidikan rendah adalah hal yg berbahaya, demikian juga kalau berpendidikan tinggi:  

A little education is a dangerous thing. So is a lot.

Kita sering membaca di surat kabar, pencoleng atau bajing loncat, umumnya berpendidikan rendah, dengan gesit meloncat ke gerbong kereta api atau truck yang sedang berjalan kemudian melemparkan sebagian muatan ke pinggir jalan. Tapi orang yang berpendidikan tinggi bisa mencuri semua gerbong dengan membelokan lokomotifnya menyimpang dari tujuan. Pendidikan ibarat pisau bermata dua. Saya beranggapan inilah peluang atau potensi kelebihan Muhammadiyah dari Universitas-Universitas lain umumnya, yaitu memberikan pendidikan yang lebih paripurna, dunia dan akhirat. 

Saya belum membaca strategi atau road-map Umtas kedepan. Umtas yang relatif masih kecil, mempunyai pilihan apakah berniat untuk membesarkan (kuantitas), atau berencana menjadikan Umtas untuk jadi Universitas yang small but beautiful (kualitas). Membangun sebuah  Department Store kah atau  Boutique University, ada harga yang harus dibayar di masing-masing pilihan.

Saya juga belum tahu keadaan keuangan Umtas, sumbernya dari mana saja, perbandingan pengeluaran/pemasukan, sudah sampai tingkat mana untuk memiliki endowment fund atau dana abadi seperti berbagai Universitas lain yang sudah lebih mapan.

Mengingat keterbatasan ekonomi dari umumnya penduduk Indonesia, berbagai potensi pencarian dana non-konvensional perlu lebih digali sehingga dalam berkembang Umtas juga bisa menjembatani kelemahan  ‘daya beli’ masyarakat.

Dalam obrolan ‘ngaler ngidul’ dengan Pak Rektor sampai pada topik orang Sunda, penduduk asli Tasikmalaya, bahwa orang Sunda yang merantau lebih ‘maju’ berbanding mereka yang tinggal di kampungnya. 

Seorang pakar perkebunan yang berprestasi, orang Sunda asli, Pak Soedjai Kartasasmita, sekarang sudah 92 tahun dan  masih aktif dalam berbagai kegiatan bisnis dan sosial, membenarkan hal ini. 

Beliau lama di Medan menjadi Direktur Utama berbagai PTPN bersama beberapa orang Sunda lain. Mereka mengatakan penyebab orang Sunda yang tinggal dikampungmya ‘kurang maju’ diantaranya karena ternina bobokan oleh daerah yang umumnya sangat subur, keluarga saling membantu yang kemudian membuat umumnya jadi malas atau tidak bekerja keras karena dengan santai saja sudah bisa hidup. 

Pesannya adalah, kalau orang Sunda yang tinggal di Jawa Barat menyadari akan hal ini dan kemudian berbuat sesuatu yaitu bekerja habis-habisan seperti kalau dia berada di perantauan, kalau tidak bekerja keras kelaparanlah pertaruhannya, maka Propinsi ini akan menjadi yang termaju di Indonesia.

Memang merupakan hal yg umum terjadi di mana-mana, perantau lebih berhasil terutama dalam hal ekonominya berbanding orang setempat. Orang Madura di Kalimantan Barat, orang Bali yang datang ke Lampung, yang datang ke Papua, orang Sumatra Barat merantau begitu menginjak umur dewasa, meskipun kadang suksesnya  membuat kesenjangan.

Orang Eropa dan pendatang dari negara lain ke benua Amerika, malahan kemudian menguasai benua itu, sedangkan orang asli Indian terpinggirkan. Banyak imigran-imigran lain kemudian berdatangan ke Amerika dengan membawa mimpi masing-masing, begitu banyak cerita sukses di negeri Paman Sam ini (American dream), negara yang memberi keleluasaan untuk meraih mimpi setiap warga negaranya. 

Alasan utama dari majunya pendatang ke perantauan adalah karena mereka telah membekali diri dengan baik, termasuk atau terutama bekal mental, seta menyiapkan suatu rencana yang jelas yang ingin mereka capai. Mereka bekerja dengan penuh semangat tak mengenal lelah atau waktu, di sebuah negara baru dimana kemerdekaan, kesempatan dan lingkungan yang kondusif merupakan hal yang tidak didapati di negara asalnya.

Mengingat pentingnya tujuan yang jelas untuk dicapai, perlu diniatkan bersama untuk kita tuju untuk menjadikan Umtas  kebanggaan kita, kebanggaan masyarakat Tasikmalaya, kebanggaan Muhammadiyah, dan Indonesia umumnya.  

Kita akan capai tujuan itu dengan bekerja keras dan cerdas secara kompak antara Management Umtas dan BPH dan semua yang terlibat didalamnya. Dalam menjalankan pekerjaan, kita akan bergesekan dan gesekan itu seharusnya  hanya akan membuat kita lebih kuat, lebih memahami masing-masing  dengan baik karena kita mempunyai tujuan yang sama yaitu memajukan Umtas, insya Allah.

Modal umur atau senioritas saya mudah-mudahan bisa jadi perekat kekompakan dan dari awal saya memohon maaf bila gaya saya belum bisa ‘nyambung’ dengan kultur atau budaya yang ada di Umtas. Saya datang dari luar, ibarat transfusi darah, untuk sembuh  selalu mengalami fase demam, dan itu normal.

Saya sebenarnya sudah lama hanya mengerjakan hal-hal yang saya senangi saja. Menerima jabatan sebagai anggota BPH Umtas akan merupakan kegiatan baru bersama team yang saya belum kenal. Insya Allah dengan niat untuk menjadikan kegiatan ini untuk menjadi amal kebaikan akan memudahkan asimilasi dan bekerja Bersama-sama untuk merealisasikan kesuksesan Umtas.

Akhirul kata, terima kasih atas kepercayaan yang diberikan, tidak ada gading yang tak retak, mohon maaf bila ada kata yang kurang pas dalam sambutan saya ini.

 

Walaikumsalam warrohmatullahi wabarakatuh.

Rachmat Badruddin

 

Albert Einstein

If I had an hour to solve a problem and my life depended on the solution, I would spend the first 55 minutes determining the proper question to ask, for once I know the proper question, I could solve the problem in less than five minutes. 


Bagikan berita ini