+62 265 2350982

HOTLINE

Gubernur Jabar dan UMTAS


GUBERNUR JABAR BICARA TENTANG MUHAMMADIYAH DI UMTAS

Jumat, 27 Oktober 2017 M / 7 Safar 1439 H hadir di Graha Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS)             Gubernur Jawa Barat, Dr. Ahmad Heryawan, Lc (Aher). Kehadiran orang nomor satu di Jawa Barat tersebut adalah dalam rangka memenuhi undangan panitia untuk menghadiri Pembukaan Musyawarah Wilayah Ikapan Pelajar Muhammadiyah Jawa Barat XVIII (Musywil IPM Jabar ke-18) yang akan digelar selama 3 hari, yaitu Jumat-Ahad, 27-29 Oktober 2017 M/ 7-9 Safar 1439 H.

Dalam sambutannya, Aher menyampaikan tentang persyarikatan Muhammadiyah yang menyumbang kontribusi sangat besar kepada Indonesia. “Bicara mengenai pendidikan dan pembelajaran, Muhammadiyah adalah organisasi masyarakat pelopor pendidikan, jauh sebelum Indonesia merdeka. Terimakasih kepada seluruh jajaran Muhammadiyah yang telah membantu negara dalam menghadirkan sekolah-sekolah hingga ke pelosok negeri,” ungkapnya.

Sekolah, menurutnya, adalah wajah bangsa. Tanpa sekolah, bangsa akan kehilangan wajah. Sekolah membuat anak-anak bangsa menjadi generasi yang pintar, yang mampu mengelola kekayaan alam negara, yang mampu menjadi panutan dalam pemerintahan, serta dapat membawa nama baik bangsa.

Ia mencontohkan sejarah Jepang, ketika Hiroshima dan Nagasaki di bom atom dan Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, hal itu merupakan titik nol bagi Jepang. Setelah sadar dari pingsannya, Kaisar Hirohito tidak menanyakan berapa tentara dan senjata yang tersisa, namun menanyakan berapa banyak guru yang tersisa. Hal ini menunjukkan betapa Kaisar Hirohito sangat sadar bahwa untuk melakukan recovery Jepang ia membutuhkan SDM yang handal. SDM yang handal tidak akan didapat tanpa KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) yang berkualitas. KBM yang berkualitas tidak akan didapat tanpa guru yang handal.

Oleh karena itu, Aher mengucapkan terimakasih atas hadirnya lembaga pendidikan Muhammadiyah. Organisasi masyarakat yang hadir pada masa itu ada banyak. Namun yang hadir dengan visi misi Islam adalah Muhammadiyah. “Di masa kini, diantara wajah-wajah kampus yang mewakili wajah negara (kampus negeri – red), kampus Muhammadiyah tetap yang terbanyak. Di tingkat sekolah menengah pun negeri kalah jumlah oleh Muhammadiyah,” paparnya.

Terkait dengan organisasi sekolah, Aher menyampaikan, ketika sekolah negeri memiliki OSIS, Organisasi Intra Sekolah, Muhammadiyah memiliki IPM, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, yang lintas sekolah, bahkan lintas daerah. Organisasi seperti ini adalah bagian dari soft skill yang sangat diperlukan oleh generasi muda. “Generasi milenial, generasi Z yang supra modern ini telah dihadapkan dengan IT sejak kecil. Mereka terkena problem modern, yaitu lemah soft skill, karena sering berhadapan dengan mesin sehingga kurang manusiawi ketika berhadapan dengan manusia,” jelasnya.

Dalam organisasi, tambahnya, terdapat pembinaan yang tidak didapatkan di bangku sekolah. Pembinaan seperti ini yang akan melengkapi skill mereka, sehingga seimbang antara hard skill dan soft skill. “Ketika anak muda memiliki hard skill dan soft skill yang seimbang, maka mereka akan menjadi manusia yang hebat dan istimewa. Mereka bisa memimpin dan bisa dipimpin, hidup harmoni bersama-sama, sehingga tercipta peradaban yang berkemajuan. Mungkin dari forum ini akan terlahir pemimpin-pemimpin masa depan, calon presiden, calon gubernur, serta calon pengusaha-pengusaha muslim. Pengusaha dan orang-orang kaya di negeri ini haruslah muslim yang sholeh, dan semoga itu terlahir dari rahim IPM,” pungkasnya. [nu]

 

Release: 30 Oktober 2017
Author: Hidayah nu.



Back to Top