+62 265 2350982

HOTLINE

Peresmian Klinik Pratama PKU Muhammadiyah


Oleh: Ilam Maolani (Alung Rawawi)

Dalam rangka Milad Muhammadiyah yg ke 104 dan milad UMTAS yg ke 2, Hari Rabu 28 Desember 2016 UMTAS mengadakan sebuah acara yg dikemas secara variatif dan integratif, yaitu Pidato Milad dari Ketua PP Muhammadiyah Dr.H.Haedar Nashir, M.Si., penandatanganan MOU dengan beberapa perguruan tinggi (salah satunya dengan Universitas Sultan Zainal Abidin Malaysia), peresmian Klinik Pratama PKU Muhammadiyah Tasikmalaya dan Laboratorium Skill UMTAS, bertempat di Kampus UMTAS Jalan Tamansari Kota Tasikmalaya.

Disamping Ketua PP Muhammadiyah, hadir juga Ketua Majelis Dikti dan Ketua Majelis Kesehatan PP Muhammadiyah, Ketua PWM Jabar,Ketua PDM, Para Pimpinan Cabang dan Ortom, pimpinan AUM, perwakilan pemerintah Kab.Tasik, Pangandaran, perwakilan RSU Soekarjo Kota Tasik serta pihak-pihat pengelola universitas yg ada di Priangan Timur dan Malaysia. Hadir pula dari Kodim, Polresta, unsur ormas Islam, BPJS, pengelola Bank BTN Syariah, BNI Syariah, dan Bank Muamalat.

Di awal pidato, ketua PP Muhammadiyah mengucapkan terimakasih kepada Ketua PDM yg juga mantan walikota yg telah menyambut beliau dini hari di stasiun kereta api dan hotel Santika.

Dalam paparan pidatonya, beliau menceritakan tentang tidak asingnya beliau terhadap Tasikmalaya, sebab beliau pernah mesantren di Cintawana. Salah satu kebiasaan beliau ialah punya kebiasaan mandi tidak bersama santri tapi ia selalu mandi di tempat yg agak jauh ke sebuah sungai yg airnya jernih. Menurutnya, dalam konteks kebangsaan, Tasikmalaya mempunyai sejarah penting di negara ini, sebab Tasik pernah melahirkan seorang kader Muhammadiyah yg berkiprah di pemerintahan, yaitu Ir.Juanda Kartawijaya yg pernah menjadi perdana menteri dan empat kali pernah menjadi menteri. Dari Juanda pulalah telah melahirkan Deklarasi Juanda tahun 1957 yg salah satu isinya berkaitan dengan hukum laut internasional, yg ternyata pada tahun 1982 diakui pemberlakuannya. Maka sesungguhnya Juanda itulah yg merupakan tokoh berdirinya tonggak NKRI dan Tokoh tonggak kemaritiman.

Juanda yg lahir tahun 1911 dan wafat pada tahun 1963 diakui pemerintah sebagai seorang pahlawan. Di akhir menjelang wafatnya, Juanda selama 4 tahun rela menjadi guru dan kepala sekolah Muhammadiyah Jakarta.

Untuk mengenang jasa Juanda maka diabadikan menjadi nama bandara di Surabaya, taman di Bandung, dan tentu nama jalan di kota Tasikmalaya.

Inspirasi Juanda inilah yg bisa menjadi spirit Muhammadiyah Kota Tasik menuju Indonesia.

Ada dua kiprah Muhammadiyah yg tidak boleh dilupakan, yaitu kiprah untuk kemajuan bangsa dan kiprah kemanusiaan universal.

Berdirinya Muhammadiyah oleh K.H.Ahmad Dahlan mampu mengubah wajah bangsa menjadi khairu ummah yg terbebas dari penjajahan, keluar dari ketertinggalan dan maju dari kejumudan.

Pada abad 11 sampai 14 Islam bangkit kembali dengan semangat pembaharuan. Dahlan mendaur ulang pbajaruan itu dengan mendirikan Muhammadiyah yg mempunyai ciri khas sebagai gerakan tajdid (pembaharuan) dan Tanwir (pencerahan).

Tingkat kemajuan peradaban manusia ditandai oleh dua hal, yaitu:1) rohani yg melahirkan karakter manusia, 2) sains, yg melahirkan ilmu, menjadi sumber sumber unsur unsur kemajuan.

Islam itu salah satu misinya adalah melahirkan peradaban yg mampu membawa manusia untuk tetap menjaga hablumminallah dan hablumminannas, sehingga terbentuk sosok manusia yg spiritualitas disinari oleh nilai nilai Ilahi.

Betapa Islam itu mampu mengubah kehidupan. Contoh: Ketika bangsa Arab merendahkan prp maka Islam datang untuk memuliakannya.Di saat bangsa Arab melakukan perniagaan dengan curang, maka Islam datang mencari rezeki dengan cara halal dan baik. Ketika bangsa Arab bergontok gontokan saling menumpahkan darah, maka Islam datang dengan semangat kedamaian.

Momen milad ini menumbuhkan spirit tajdid dan Tanwir yg menjadi tonggak Muhammadiyah berkemajuan, dengan memiliki empat ciri:

Pertama, luruskan aqidah dan ibadah umat sehingga melahirkan transformasi rohaniah dalam kehidupan manusia. Umat yg saleh individual dan saleh sosial.

Kedua, perbaiki akhlak, sehingga melahirkan keadaban publik, sosok manusia menjadi contoh teladan bagi umat. Akhlak itu salah satunya dapat diambil contoh dalam bermedsos. Medsos itu berisi ajaran dan ujaran, bisa berdampak baik atau buruk. Maka berhati-hatilah dalam bermedsos. Dari ajaran dan ujaran dlm medsos bisa jadi menimbulkan perang dunia ke 3. Kita manusia mesti hifdzil lisan, hifdzil kitabah, dan hifdzil Kalam. Seluruh civitas akademika UMTAS dituntut untuk berakhlak baik dengan menjaga ketiga hal itu.

Ketiga, membangun budaya ilmu. UMTAS harus menjadi gerbang atau pintu ilmu pengetahuan. UMTAS hrs berfungsi sebagai driving force (kekuatan penggerak) dan center of excellence (pusat keunggulan), termasuk unggul dalam berenterprenership. Jiwa kewirausahaan ini harus bisa digerakkan oleh Umtas.

Keempat, membangkitkan kembali tajdid dan tashih dalam bermuamalah.Umat Islam perlu kesadaran kolektif untuk bangkit, maju dan berkembang, termasuk Umtas, sehingga Umtas bisa menjadi besar kelak seperti halnya UMM, UMY,UMS,UMJ, dan perguruan tinggi lainnya.

Kini saatnya marilah kita menjadi kader kader Muhammadiyah yg mandiri, tidak tergantung pada bantuan pemerintah.Jika pemerintah membantu, itu adalah kebaikan perintah pada Muhammadiyah.

Indonesia berkemajuan itu berawal dari muslim berkemajuan. Muslim berkemajuan itu berawal dari BERMUHAMMADIYAH BERKEMAJUAN.

Sekian liputan ini, semoga bermanfaat...



Back to Top