+62 265 2350982

HOTLINE

Dr H Ahmad Konit AD MA, Ada Empat “Different” Kita


Jumat, 23 Januari 2015

Mengiringi kehadiran atau peresmian Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (Umtas) lewat satu seremoni, Rabu pekan kemarin, di antara yang menjadi perhatian undangan adalah soal kehadiran siapa sosok pucuk pimpinan kampus ini, rektor Umtas yang ditetapkan pimpinan pusat Muhammadiyah.

Sedari awal, memang menyertai prosesi peresmian Umtas mengemuka satu agenda seleksi rektor. Di pengujung acara peresmian yang dipusatkan di aula kompleks kampus Umtas ini, akhirnya diumumkan, ditetapkan sosok Dr H Ahmad Konit AD MA, akademisi senior di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, sebagai rektor Umtas.

Setelah satu surat keputusan dibaca lengkap pengurus PDM Muhammadiyah Jabar, H Ahmad Konit pun tampil, berdiri di depan audens. Banyak yang terlihat menatap rektor pertama Umtas ini dengan kesan baru lihat, asing, dan bertanya-tanya bagaimana sosoknya. Namun, pertanyaan itu akan beda dengan jajaran pengurus PDM Muhammdiyah Jabar yang terlihat lama mengenalnya. Puncaknya ia mendapat ucapan selamat dan dorongan semangat.

Selepas rangkaian acara usai, Tasikplus mencoba menanyainya seputar gagasan ia memimpin kampus. Apa konsepnya, apa orientasi menghasilkan alumni Umtas, dll. Kemudian, ia menerangkan dengan tenang, dan berikut petikannya:

Dalam rangkaian peresmian Umtas, akhirnya Anda ditetapkan sebagai rektor. Apa pemberian amanah ini sudah Anda duga sebelumnya?

Saya tidak terpikir sama sekali. 10 hari lalu, saya dihubungi PDM ditawari (ikut soal seleksi rektor). Dua hari kemudian saya dipinta untuk tes wawancara. Berikutnya, ada pemilihan. Terus, bergulir. Sampai saya datang ke sini juga sendirian, dikawal dua sopir. Tidak mengerti dengan acara yang begitu hebat begini. Saya gak bawa anak isteri atau siapa-siapa. Selama ini saya ngajar di UIN Bandung.

Lantas, setelah kepercayaan jatuh ke Anda, konsepsi apa yang akan bangun untuk kekhasan, kelebihan Umtas nanti?

Terdapat beberapa different (perbedaan) yang nanti mewarnai kampus ini. Ada empat different kita. Yang pertama keunggulan kita adalah di ideologi. Kenapa ideologi? Karena, Muhammdiyah itu jelas adalah gerakan dakwah amal Islam, gerakan tajdid, gerakan pencerahan. Itulah motor penggerak yang akan memberikan spirit, bagaimana universitas ini bangkit. Masih dalam ideologi itu, intisarinya adalah taukhidulloh. Kemudian, taukhid itu isinya bagaimana merefleksi seluruh komponen Umtas sebagai komponen nasionalism yang religius.

Oleh karena itu implikasinya adalah seluruh SDM umtas, nantinya harus sinergi. Dari segi apa? Keteladanan dalam aspek ideologi, aspek keberagaman, dan aspek nasionalism, serta aspek solusi terhadap problem-problem kehidupan masyarakatnya. Yang kedua perberbedaan kita, di aspek bahasa. Bahasa ini bahasa asing, bahwa mahasiswa kita itu harus pandai berkomunikasi dengan bahasa asing, baik Inggris maupun Arab, atau yang lainnya yang dipandang perlu dalam rangka berkomunikasi, menyebarkan ilmunya memecahkan masalah-masalah kita. Yang ketiga adalah manajemen. Manajemen ini berkaitan dengan komunikasi dan kepemimpinan. Termasuk di dalamnya enterprenership.

Jadi, mahasiswa-mahasiswa kita nanti itu harus pandai berkomunikasi. Mengomuikasikan, dan itulah esensi kepemimpinan. Different yang keempat adalah soal penempatan IT (information technology) atau teknologi informasi. Soft skill mahasiswa Umtas harus benar-benar menguasai soal IT. Nanti di sini kita bangun, ada pusat IT, yang dapat mengakses seluruh pusat informasi termasuk perpustakaan yang ada seluruh di dunia ini. Keadaan buku-buku di manapun bisa diakses. Nah ini pentingnya IT bagi mahasiswa kita. Jadi, nantinya ada suatu bagian, badan, yang mengelola IT itu hingga seluruh mahasiswa dan SDM yang ada terampil dan menguasai soal IT ini.

Saya kira itu defferent kita yang akan kita bangun, sampai seluruh stakeholders, masyarakat kita, memerlukan setelah memahami bahwa alumni-alumni kita memiliki ideologi yang jelas, punya knowledge yang jelas. Berkenaan itu dengan dengan konsep, tujuan Muhammdiyah yaitu, membangun khoerul ummah. Umtas itu akan menjadi katalisator dalam kerangka membangun khoerul umah ini Halnya, kita tahu nanti ada UUD Desa yang baru, yang undang-undang ini mendorong desa sebagai desa mandiri. Ketika dia perlu sesuatu dia produksi sendiri, menjadikan masyarakat mandiri, dan Umtas akan memiliki desa binaan. Dengan modal yang dimiliki tatkala ada PPL, KKN, atau ada pengabdian masyarakat, mahasiswa Umtas di situ bukan berwacana tapi dia berperan membantu menjadi masyarakat yag mandiri.

Dosen-dosen yang sudah disiapkan?

Dosen-dosen sudah disiapkan dari beberapa perguruan tinggi yang mereka ini sudah menyatakan kesediannya sebagaimana saat ada visitasi dari Dikti/kementerian. Mereka tidak di sini, di luar jawa atau ditempat lain. Namun, meski ada di tempat lain, dosen-dosen tertentu seperti jurusan pertambangan mungkin mereka nanti ada kuliah yang sifatnya jarak jauh, menggunakan IT.

Tantangan kampus di awal ini?

Tantanan terbesar kita, karena baru. Nah untuk soal itu sudah barang tentu, kita memerlukan soliditas di antara komponen yang ada. Itu bisa BPH, PDM, dosen-dosen dan orang-orang terdahulu yang ada disini. Itu harus dibuktikan. Saya orang baru di sini. Semua persembahkan sebagai ibadah kepada Alloh SWT. Kita berada di Umtas ini bukan untuk mencai uang, bukan mencari apa-apa. Tapi untuk beribadah. Itu yang ingin kita kembangkan sehingga bagaimana semuanya bisa menjadi ringan dan mudah.

Semua penyelenggara perguruan tinggi (PT) mengklaim masing-masing mereka unggul. Karenanya, apa contoh konkret yang mungkin bisa Anda klaim kelebihan Umtas lainnya di samping yang empat aspek tadi?

Dosen dosen yang profesinal. Eksekusi PT-PT itu ada pada dosen. PDM hebat, gedungnya bagus-bagus, kalau SDM tidak, ya tidak. SDM yang menentukan. Men behind the gun. Kurikulum itu buatan dosen, buatan kita-kita. Nah kalau dosennya tidak ada apa apanya, kurikulum canggih hebat gak apa apanya, kita bicara kurikulum hebat macem-macem. Kalau gurunya dosen gak dilatih, gak ada apa-apa

Optimisme Anda dengan perkembangan kampus ini?

Insya Alloh.

Keyakinannya?

Saya di UIN Bandung sudah relatif lama. Ketika di UIN ada program pascasarjana, saya di situ, sebagai sekretaris. Saya kemudian ketua jurusan Sastra Arab, dan pindah menjadi Pembantu Dekan II. Saya juga di beberapa periode dan masih sampai sekarang, anggota pusat kerja sama UIN Sunan Gunung Jati Bandung.



Back to Top